Kata Paradigma dalam bahasa Inggris adalah “paradigm” yang berarti “model” (John dan Shadily, 1992:417). Sedangkan Barker menyatakan bahwa kata “paradigma” berasal dari bahasa Yunani yaitu “Paradeigma”, yang juga berarti “model, pola, dan contoh” (Arthur, 1999:38). Menurut Istilah, Barker sendiri mendifinisikan paradigma sebagai seperangkat peraturan dan ketentuan (tertulis maupun tidak) yang melakukan dua hal: 1) ia menciptakan atau menentukan batas-batas; dan 2) ia menjelaskan kepada anda cara untuk berperilaku di dalam batas-batas tersebut agar menjadi orang yang berhasil (Arthur, 1999:38-40).
Istilah paradigma pertama kali diperkenalkan oleh Thomas Kuhn. Paradigma didefinisikan sebagai kerangka konseptual atau model yang dengannya seorang ilmuwan bekerja (a conceptual framework or model within which a scientist works). Kemudian Robert Friedrichs mempopulerkan istilah paradigma, mengatakan bahwa paradigma sebagai suatu pandangan yang mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari (Elmubarok, 2009:38).
Sedangkan paradigma ilmu pendidikan dalam Islam merupakan suatu konstruksi pengetahuan yang memungkinkan kita memahami realitas Ilmu Pendidikan sebagaimana Islam memahaminya. Konstruksi pengetahuan itu dibangun oleh nilai-nilai Islam dengan tujuan agar kita memiliki hikmah (wisdom) yang atas dasar itu praktik pendidikan yang sejalan dengan nilai-nilai normatif Islam. Pada taraf ini, Paradigma Islam menuntut adanya grand design tentang ontologi, epistemologi, dan aksiologi pendidikan. Fungsi paradigma ini pada dasarnya untuk membangun perspektif Islam dalam rangka memahami realitas Ilmu Pendidikan. Tentunya hal ini harus ditopang oleh konstruksi pengetahuan yang menempatkan wahyu sebagai sumber utamanya, yang pada gilirannya terbentuk struktur transendental sebagai referensi untuk menafsirkan realitas pendidikan. Islam sebagai Paradigma Ilmu pendidikan juga memiliki arti konstruksi sistem pendidikan yang didasarkan atas nilai-nilai universal Islam. Bangunan sistem ini tentunya berpijak pada prinsip-prinisp hakiki, yaitu prinsip at-tauhid, prinsip kesatuan makna kebenaran dan prinsip kesatuan sumber sistem. Dari prinsip-prinsip tersebut selanjutnya diturunkan elemen-elemen pendidikan sebagai World of view, terhadap pendidikan. Paradigma Islam, yaitu paradigma yang memandang bahwa agama adalah dasar dan pengatur kehidupan. Aqidah Islam menjadi basis dari segala ilmu pengetahuan. Aqidah Islam yang terwujud dalam apa-apa yang ada dalam al-Qur`an dan al-Hadits menjadi qa’idah fikriyah (landasan pemikiran), yaitu suatu asas yang di atasnya dibangun seluruh bangunan pemikiran dan ilmu pengetahuan manusia. Paradigma ini memerintahkan manusia untuk membangun segala pemikirannya berdasarkan Aqidah Islam, bukan lepas dari aqidah itu. Ini bisa kita pahami dari ayat yang pertama kali turun: Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan” (QS. al-‘Alaq: 1). Maksud dari ayat tersebut bahwa manusia telah diperintahkan untuk membaca guna memperoleh berbagai pemikiran dan pemahaman. Tetapi segala pemikirannya itu tidak boleh lepas dari Aqidah Islam, karena iqra` haruslah dengan bismi rabbika, yaitu tetap berdasarkan iman kepada Allah, yang merupakan asas Aqidah Islam (hayatulislam.multiply.com/journal/item/, akses tgl 22 deseber 2014).
Sedangkan dalam ranah Islam transformatif adalah tanggung jawab terhadap mereka yang termarjinalkan, melakukan perubahan demi mencapai kebebasan dan keadilan sosial. Agama harus ditafsirkan secara kontekstual sehingga dapat berfungsi dalam kehidupan sosial selain kehidupan ritual. Pemaknaan seperti ini bernilai bahwa Islam transformatif memiliki tugas ganda selain menciptakan keadilan sosial juga meningkatkan keimanan dengan melakukan kegiatan sosial (Munawar, 2001:448).
Menurut pandangan Abuddin Nata, Islam transformatif adalah Islam yang mengubah, membentuk serta menjadikan. Ketiga istilah tersebut dipahami Nata sebagai hakikat transformatif. Mengubah dalam arti memberikan perubahan kondisi masyarakat yang termarginalkan oleh modernisasi dan pembangunan. Membentuk karakter manusia agar lebih humanis, serta menjadikan masyarakat berdasarkan cita-cita Islam. Pemaknaan ini mewakili corak pemikiran Islam transformatif yang tak lepas dari peningkatan kompetensi sosial umat beragama, karena kehidupan beragama tidak hanya ibadah tetapi juga muamalah. Islam itu memang bernilai transformatif yaitu agama perbaikan, agama yang memperjuangkan masyarakat menuju kebaikan yang lebih egaliter, demokratis, mandiri tanpa campur tangan negara. Nilai-nilai transformatif tersebut dalam sejarah agama Islam telah dimulai dari dakwah rasul yang memperjuangkan masyarakat dari keterpurukan akibat zaman jahiliah, hal inilah yang menginspirasi para pemikir transformatif untuk melanjutkan misi Rasulullah (Abuddin Nata, 2001:78).
Dapat disimpulkan bahwa paradigma ilmu pendidikan Islam transformatif ini adalah suatu disiplin pengetahuan yang dibangun atas dasar nilai-nilai Islam untuk menciptakan karakter manusia dalam praktik pendidikan yang religius dengan meningkatkan keimanan dalam melakukan kegiatan sosial.
DAFTAR PUSTAKA
Arthur, Joel Barker. 1999. Paradigma Upaya Menemukan Masa Depan. Batam: Interajsar.
Elmubarok, Zaim. 2009. Membumikan Pendidikan nilai. cet. 2. Bandung: Alfabeta.
John, M. Echols dan Shadily. 1992. Kamus Inggris Indonesia. Jakarta: Gramedia.
Munawar, Budhi Rahman. 2001. Islam Pluralis. Jakarta: Paramadina.
Nata, Abuddin. 2001. Peta Keragaman Pemikiran Islam di Indonesia. Cet. 2. Jakarta: PT. Grafindo Persada.
EmoticonEmoticon